Posted by : Lintang Pamungkas 10 Nov 2012


Kentang, dengan nama ilmiah Solanum Tuberosum, dalam bahasa mandarin disebut Tu Dou (=  Kedelai Tanah) atau Ma Ling Shu, di Provinsi Shanxi, China disebut pula Telur Obat Gunung.

Dewasa ini ia berada di urutan belakang gandum, jagung dan padi, luasan  penanamannya berada pada urutan keempat produk pertanian. China menghasilkan kentang 66 juta ton per tahun, menduduki peringkat pertama di seluruh dunia.
Kentang liar paling kuno ditemukan di wilayah sekitar pegunungan Andes — Amerika Selatan, dibudidayakan oleh penduduk Indian setempat dan dipergunakan sebagai bahan pangan. Kemudian ia dibawa oleh petualang Spanyol ke Eropa, dari situlah kentang telah menyebar ke seluruh dunia.

Bunga kentang tiba di Eropa

Pada abad-16, petualang Spanyol membawa kentang ke Eropa, waktu itu terutama hendak mengenalkannya kepada Eropa sebagai tanaman hias.
Pada 1565, Raja Spanyol Philipp II mengirimkan kentang sebagai kado kepada Sir Paus di Roma, permaisuri Raja Prancis Louis XVI yang kebetulan hadir di tempat itu memuji bunga kentang yang begitu elegan dan bebas, maka tanaman hias kentang mendadak harganya naik berlipat ganda, kemudian orang Italia memberinya sebuah sebutan baru yakni "Kedelai Tanah". Pedesaan di wilayah Provinsi Liaoning-China hingga kini masih menggunakan sebutan semacam itu.
Namun, kentang dijadikan sebagai bahan pangan secara meluas di Eropa bukannya tanpa halangan.

Makanan kaum miskin

Sejak masuk ke Eropa, orang Eropa tidak suka menyantapnya, konsep kebudayaan Eropa membuat mereka menolak kentang sebagai bahan pangan, bahkan dianggap sebagai setan iblis terutama bagi orang Prancis.
Penyebabnya juga beraneka-ragam misalnya: memakan kentang bisa terkena penyakit kusta, di dalam Bibel tidak pernah disinggung mengenai kentang, berasal dari Amerika Latin yang merupakan bahan pangan utama suku bangsa taklukan dan tidak berkembang. Selain itu buah kentang tumbuh di bawah tanah, tidak seagung gandum yang menjulur ke langit, juga tidak bisa dibuat roti dan roti Ekaristi.
Pendek kata, alasan penolakan mengonsumsi kentang sangat beragam, sebagian besar alasan mengacu pada satu hal yakni: kandungan kebudayaan umat manusia di dalamnya terlalu sedikit, selain itu kandungan alamiahnya terlalu banyak. 
Berkenaan dengan alasan tersebut di atas, dalam jangka waktu lama kentang dipandang sebagai bahan pangan untuk kaum miskin dan untuk pakan ternak, para orang kaya dan bangsawan sama sekali tidak ingin menyentuhnya. Raja Frederik II - Prussia (nama negara Jerman sebelum Perang Dunia I) meminta para petani yang mestinya menerima hukuman untuk membudidayakan kentang. Pada 1748 parlemen Prancis bahkan mengeluarkan maklumat melarang penanaman kentang, karena khawatir kentang bisa berkaitan dengan iblis.
Satu-satunya perkecualian adalah orang Irlandia. Pada 1586, Inggris mengalahkan Spanyol di laut Karibia, sejak saat itu kentang terbawa dan tersebar di Inggris. Karena udara di Inggris cocok untuk pertumbuhan kentang, lagipula tanah gersang beberapa area bisa menghasilkan produk kentang cukup banyak, untuk menghidupi sebuah keluarga besar berikut semua ternak mereka. Sampai 1650 kentang telah menjadi bahan pangan utama di Irlandia. 

Sumbangsih Prancis

Dalam perang 7 tahun, Parmentier menjadi dokter tentara pada pasukan Prancis, kemudian ia ditawan oleh pasukan Prussia dan dijebloskan ke dalam penjara di Prussia. Di dalam penjara tersebut ia dipaksa mengonsumsi kentang pakan ternak babi, yang ternyata berbeda dengan kesannya selama ini, ia merasakan kentang ternyata sangat enak tidak seperti yang diisukan. 
Pada 1763, sesudah Parmentier dibebaskan dan kembali ke Paris. Ia mulai meneliti ilmu tentang nutrisi dan berdasarkan pengalaman di penjara ia mencoba memberikan kentang sebagai nutrisi bergizi kepada pasien yang terkena penyakit disentri. Lantaran kegigihannya, pada 1772, institut kedokteran Paris mengumumkan kentang sebagai bahan pangan yang layak dikonsumsi manusia.
Namun, mitos masyarakat terhadap kentang tidak terjadi perubahan. Oleh karena tentangan organisasi gereja sebagai pemilik lahan, rumah sakit dimana Parmentier bekerja melarangnya melakukan percobaan penanaman kentang di dalam kebun. 
Di bawah situasi demikian, Parmentier terpaksa melakukan serangkaian cara tidak lazim, ia mengundang makan malam sejumlah tokoh kenamaan masyarakat seperti Benjamin Franklin dan Antoine Lavoisier, setiap lauk pada perjamuan makan tersebut terbuat dari kentang. Ia kemana-mana selalu mengenalkan kelebihan kentang yakni: sifat penyesuaian yang kuat dan produktifitas tinggi.
Ia pun mengirim bunga kentang yang sedang mekar kepada raja dan ratu Prancis. Sang raja dan ratu sangat menyukainya, bahkan ratu Mary Anton Knott menyuntingkan sekuntum bunga kentang di sanggul rambutnya, sang raja sendiri juga mengenakan bunga kentang yang imut-imut ke jasnya.
Di bawah pengaruh raja dan ratu, para pejabat besar beserta istri-istri mereka juga menjadikan bunga kentang sebagai perhiasan paling anggun dan paling modis. Secara perlahan kalangan atas Prancis telah mengenal kentang, luasan pembudidayaan kentang mulai membesar.
Pada 1785, tatkala pertanian Prancis mengalami panen buruk, bahan pangan tidak mencukupi, kentang telah menyudahi bencana kelaparan di utara Prancis. Masyarakat Prancis mulai mau menerima kentang.
Pada 1787, Louis XVI raja Prancis menghibahkan sebidang tanah milik kerajaan di wilayah Saba Long-Paris barat kepada Parmentier agar ia dapat bercocok tanam kentang. Pagi hari Parmentier menutupi tanaman kentangnya dengan kain paranet, dan di seputar lahan itu ia menempatkan pasukan bersenjata untuk berjaga; malam harinya penjagaan tersebut ditiadakan.
Lama kelamaan, petani lokal yang merasa penasaran percaya bahwa benda yang ditanam itu pasti sangat bernilai, maka pada malam hari mereka datang mencuri kentang dan melarikan diri. Sejak saat itu, petani yang menanam kentang mulai bertambah.
Pada 1795 sewaktu terkepung oleh Komune Paris, masyarakat mulai bercocok tanam kentang secara besar-besaran, bahkan tanpa kecuali juga di dalam istana Tuileries. Hal tersebut menurunkan bencana kelaparan yang diakibatkan oleh pengepungan secara signifikan.
Sejak saat itu, Prancis sebagai negara kuat di Eropa pada akhirnya telah menerima kehadiran kentang, sedangkan negara-negara Eropa lainnya juga susul menyusul menerima kentang. Di dalam menu masakan Prancis masa kini jika mengandung suku kata "Parmentier" itu berarti bagian utamanya adalah kentang, terutama bubur kentang dan kentang kukus.
Pada awal abad-19, Kaisar Peter Tsar Rusia sewaktu bertamasya di Rotterdam-Belanda telah menyaksikan keindahan bunga kentang, ia sangat menyukainya, maka rela keluar banyak duit untuk membeli satu karung kentang sebagai oleh-oleh dan menanamnya di kebun istana.
Pada 1842, Rusia mengalami bencana kelaparan, Tsar Nicolas I memaksa para petani menanam kentang untuk melawan kelaparan, para petani Rusia pada kesempatan tersebut menggerakkan "kerusuhan kentang".  
Produktifitas kentang yang tinggi juga turut andil dalam pertumbuhan penduduk Eropa secara pesat telah menjadi realita.  (Lin Hui/The Epoch Times/whs)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Copyright © ✖Kentang~Begadang✖Redesign by Djogzs